SAMPANKU TAK BERLAYAR
Kini dunia semkin begitu gemerlap terpancar dari dinding senja yang begitu mengema. Wahana demi- wahan selalu mengisi dunia melengkapi sosok manusia yang penuh karisma. Satiem sang perkasa muda yang menitihkan karya pada tangan dan kakinya memompa negara pada jaman bahagia. Semua itu terlihat dari ujung tombak yang gemerlap yang mendekati mata indah penuh airmata. Semua bisa tertawa semua bisa ceria ketika melihat abdi negara yang selalu membela rakyatnya.
Beda halnya dengan Satiem dan suaminya Karta mereka hanya tersenyum dan hanya berangan-angan kapan saya jadi abdi negara. Kala itu usia pernikahan mereka hampir 2 tahun dan belum dikaruniai seorng momongan. Satiem sesosok wanita yang begitu cantik tak mengherankan kalu banyak perjaka yang menyukainya. Semua remaja taka berpaling tatapany, tertuju pada Satiyem, yang cantik bersih hatinya bukan fisiknya, karana tiap hari bergelut dengan samapah- sampah sisa abdi negara. Setiap jengkal yang dia kerjakan akan menompang yang dia makan, terus dan terrus tiap hari ia bergelut dengan waktu, sakit pegal-pegal yang dia rasakan tiap hari tak meruntuhkan dia tuk cari penghidupan. Samph-sampah abdi Negara yang kini menanti seolah membawa Satiem semangat terus bertempur mengisi harinya dengan pekerjaan. Karta sesosok pria yang kian gagah dimata Satiem selalu mendampingi setiap detik apa yang dilakukanya.
Satiem merasa bersukur dia memiliki suami seganteng dan seperkasa Karta pria perkasa penuh makna. Sesekalai Satiem mengeluh menghembuskan nafas pasarahnya terhadap dunia, seolah dia takpercaya dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Karta hanya tersenyum melihat pemandangan istrinya yang merasa menyesal dilahirkan kedunia. Malam yang sunyipun menyelimuti mereka den gan kemesraan penuh cinta penuh sayang jauh bahagia. Mereka saling berbisik bercerita tentang dunia sambila memandang gedung gedung yang menjulang dari lubang bilik gardus yang mulai berlubang. Mereka berangan –angan merasakan tidur didalam gedung yang menjulang bukan di pojok gedung dalam gardus yang sobek. Sekiaan lama mereka saling menanam cinta dalam kehidupanya datanglah apa yang mereka harp dan didambakan, yaitu memiliki seorang momongan sebagai penerus untuk memeperbaiki kehidupanya.
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat Satiem berperperut besar sudah Sembilan bulan. Yang di harap-harapkan Satiem sama Karta akan mengisi dunia ini dengan senyuman. Walupun sudah mendekati hari kelahiran anaknya Satiem dan Karata tetap melakuakan aktifitasany mengumpulkan sisa- sisa abdi Negara. Satiem seolah tak merasakan bahaya bagi jani yang dia kandungnya ,yang ada dalam benaknya hanyalah sejumlah uang receh yang sangat berharga untuk proses kelahiran buah hatinya dan mengganjal perutnya yang belum terisi. Malam jumat keliwon dalam tangalan jawa satiem mulai merasakan mules –mules yang luar biasa, dan sedikit rasa sakit yang dia rasakan mengugah tetangga- gubuk gardus yang begitu indah. Rupanya satiem mulai merasakan akan kelairan buah hatinya, hanya ditemani sesosok nenek tua renta sebut saja dukun bayi kata orang desa satiem bergelut dengan maut.
Karta yang setia mendampingi satiem terus mengelus-elus rambutnya memberikan sedikit semangat untuk satiem. Tiga jam sudah satiem merasakan sakit tapi tak kunjung hadir juga sang buah hati. Rupanya sang buah hati membuat ulah didalam perutnya dia sedikit bergeser dari jalurnya sehinga menghambat kelahiranya tutur dukun bayi itu. Mungkin sang buah hati Satiem sudah merasakan betapa berat apa yang akan dia lampaui bersama kedua orang tuanya. Satiem yang selama ini tak pernah merasakan meneteskan airmata akhirnya mengeluarkan juga karna rasa sakit yang dia rasakan. Mungkin kalu biaya rumah sakit yang bisa mengerti sakitnya Satiem dan kehidupanya satiem akan mengurangi sedikit beban berat yang ditangung satiem.
Pukul dubelas pun tiba satiem merasa bebanya sedikit berkurang, sosok buah hati yang didambakan keluar juga mersakan indahnya dunia ini, disambut dengan tangiasan yang begitu merdu,” ya kalu itu buah hatinya abdi Negara” beda halnya denga buah hatinya Satiem mungkin di menangis penyesalan dia lahir bukan merasakan udara sejuk yang indah dan harum, tapi udara bau dari sisisa- abdi Negara yang dikumpulkan orang tuanya. Satiem dan Karta merasak kebahagian yang luar biasa karena sudah hadir buah hatinya yang berkelamin putri yang begitu cantik dan polos. Rasa bahagia itupun dirasakan tetangga-tetangga satiem yang setia menunggu prosesi kelahiran anak mereka.
Karta serta Satiem pun memberikan nama pada buah hatinya yang didambakan. Mereka sudah mempersiapkan nama itu sudah dari jauh –jauh hari. Mereka memberi nama pada buah hatinya bak abdi Negara saja namanya panjang dan berkelas. Satiem sambil tersenyum pada Karta sambil melambaikan bibirnya “masa dulu kita pernah berembug kalu anak kita laki- laki akan diberi nama Rido Negara” kata Satiem nama itu diambil dari riski yang kita peroleh dari sisa abdi Negara, Nama itupun dirubah karena buah hati yang satiem lahirkan bekelamin perempuan menjadi Riski Negara keliwon. Nama yang luar biasa, nama yang menandingi anank-anak abdi Negara, sunguh rancangan yang luar biasa dari satiem, yang membuat bangga bagi anak yang diberi nama itu. Teapi nama yang diberikan satiem tidak melebihi kemampuanya, satiem memberikan namaitu karena dia bias makan dan melanjutkan kehidupanya dari rizki sisa abdi Negara.
Satiem merasa apa yang dialakukan sekarang bias menjadi contoh bagi anak-anaknya supaya pekerjaanya lebih baik dari yang ia kerjakan, orang tua siapa yang mau kalu anaknya menjadi seorang pengais rezeki hasil dari sisa abdi Negara, semua orang tua di muka bumi ini berharap anaknya bisa menjadi abdi Negara yang memiliki pangkat jabatan atau menjadi bangsawan yang jauh dari kemelaratan dan penuh kebahagiaan” ungkap Satiem”. Tapi Satiem takbisa berkata apa-apa lagi mungkin itu sebagai mimpi dan angan-angan satiem saja, manamungki beliau bias menyekolahkan anaknya sampai tinggi dan jadi abdi Negara, buat makan sehari- hari saja masih kurang, kadang pagi makan, sing makan, malam tidak atau pagimakan,siang tidak, baru makan lagi, bahkan sehari-harinya pusa tidak makan. Andaikan kalu setiaphari banyak sisa abdi Negara yang terkumpul mungkin satiem bias berkehidupan lebih baiklagi.
Ah.. satiem takpernah mengerti kapan kehidupan ini akan berputar dan tak menghiraukan kapan waktu itu akan datang, dia tetap semangat star pagi pulang sore mengumpulkan sisa-sisa abdi Negara, walu dengan beban yang cukup berat sambil menggendong sangbuah hati yang baru berumur 1 bulan. Begitupula Karta sang ayah perkasa beliu pun lebih giat lagi membantu istrinya mengumpulkan sisa- sisa abdi Negara. Memang betul dikarunai seorang anak akan menambah rezeki” itu kata pepatah kuno” tetapi kenyataan pada kehidupanya karta seperti itu tadinya sehari karta hanya mengumpulkan uang 5000/ hari sekarang bias 7500/ hari. Tapi semuaitu bukan riski dari punya anak tetapi karta berangkat kerjanya tambah yang tadinya setarnya jam 07.00 sekarang jam 04.00 sudah setar, sehinggga tetangga gubug gardus lain kalah setar dengan Karta. Dibenak Karta dan satiem mereka sebenarnya tak enak sama tetengga mereka seolah mereka tak memikirkan kebutuhan tetangganya, tapi mau gimana lagi karta dan satiem ingin anaknya paling tidak bias makan 3x sehari seperti anak-anak abdi Negara.
Seiring bergulirnya waktu Riski mulai beranjak dewasa tiap hri bergelut dengan tangguh membantu keduaorang tuanta mungkin anak itu sudah merasa paham dengan kehidupan dunia.Alangkah beratnya hidup didunia ini mencari sesuap nasipun harus dilakukan oleh anak seusia riski yang baru berumur belasan taun. Tapi memang itulah dunia siapa yang kuat akan bahagia sipa yang lemah akan dibawah, makanya didunia ini ada perbandingan didunia ini ada dua kasata golongan atas dan golongan bawah. Kehidupan satiem dan keluarga golongan bawah,dan pegawai Negara adalah golongan atas. Tapi satiem tak berkecil hati bahwa kasta itu dibedakan didunia, tapi dihadapan Tuhan manusia itu sama saja hanya yang membedakan amal ibadahnya. Meskipun satiem sudah berkerja keras bekerja pagi masih gelap sudah berangkat,pulang petang gelap masih tetap saja kehidupanya seperi itu, tak bias merubanya menjadi abdi Negara yang sukses. Bedahalnay dengan abdi Negara yang sudah belasan taun apalai yang jabatnya oke dah belasan taun mungkin bias beli apa saja yang dia mau,bahkan baru 3-4 tahun sudah dapat gerobak yang warnanya meling. Riskipun sudah menginjak usia 17 tahun ia menjadi gadis yang luar biasa cantiknya di kampong di tinggal dia gadis remaja paling cantik. Tapi tetap saja kehasan kampong tu takan pernah hilang baju yang kummel, bau yang khas farpum cap sampah yang menjadi unggulan bagi Riski gadis cantik yang mungil itu. Boro-boro bisa buat beli minyak wang buat makan sehari 3 kali aja kadang kurang bahkan pusa,tapi riski tetap bersukur dengan keadaan itu memang adanya seperti itu. Sutu hari ketika rski berjalan menuturi hasil buangan sisa abdi Negara ada sesosok cowo yang gantengnya luar biasa grobaknya aja buatan Amerika, kain yang dikenakanya menkilap bak ditempeli emas berlian. Sunguh cowo yang beruntung hidup didunia ini tak ada sedikitpun yang kurang dari dirinya ,tapi cowo itu merasa kagum dengn kecantikanya Riski, kecantikanya yang dimiliki itu asli tanpa ada polsan sedikitpun. Cowo itupun menghentikan gerobak melingnya sejenak matanya terus menatap dan terus menatap tanpa berkedip tertuju pada sosok Riski yang sedang asik mengumpulkan sisa abdi Negara yang tak terpakai. Cowo itupun turun dari tungganganya dan menghampiri Riski dengan perlahan dan mulailah bibirnya muli bergetar mengeluarka sura yang begitu merdu bertanya pada Riski, “sedang apa non”, Riski serentak kaget dan membalikan badanya menatap cowo itu, dia tak hentinya menatap cowo itu dari ujung sepatu yang mengkilat ujung rambut yang tertata rapih, seolah di tak percaya da cowo setampan itu matanya tak berkedip memandang cowo itu. Selama tiga menit berselang barulah riski menjawab pertanyaan cowo itu “ gimana mas maaf…… ada apa ko mas memanggil saya ada yang bias saya bantu,” dengan gugupnya riski menjawab pertanyan itu. Cowo itupu langsung merespon jawaban dari Riski, dengan penuh rasa ceria karena pertanyaanya di tanggapi Riski. Cowo itupun menjawab nengan perlahan dan pasti “ maff sebelunya non ko non ditempat kotor seperti ini, memangnya sedang apa? Apa yang hilang ko samapi kotor-kotoran seperti itu?. Riskipun menjawab pertanyaan cowo itu dengan gugupnya, karna dia masih merasa kagum pada cowo itu, “maaf mas sebelunya jangan pangil non aku ini punya nama sendiri aku sering dipanggil riski,dan tak pantas aku dipangil non itu pantanya buat anaknya abdi Negara ,kalu aku hanya anak dari orang yang dari pengais rizki sisa abdi Negara”. Cowo itupun menjawab dengan lugas pertanyaan riski” loh emng salahnya apa bila kupanggil non itu kan sapaan untuk orang cewe ,lagian aku tadi belum nama kamu,oh iako pertannyaan saya tadi belum dijawab sedang mencari apa?”. Riskipun dengan cepatnya menjawab pertanyyan itu”mas saya tidak mencari apa-apa memang pekerjaan saya ini mencari barang sisa abdi Negara yang tak terpakai”. Cowo itupun kaget, tanpa basa basi cowo itupun langsung pergi meningalkan riski yang kebingungan melihat tingkah laku cowo itu.
Riski merasakan rasa hera itu tak berlangsung lama, iapun melanjutkan kegiatanya lagi mengambil buangan dari sang penguasa. Malampun datang riski mulai beristirahat membaringkan badanya seolah membuag rasa kesal seharian berkerja keras. Tapi malam itu riski tidak bias tidur dia malah tersenyum sendiri seperti orang yang memperoleh riski yang besar. Ternyata riski masih memkirkan yang terjadi tadi siang di seolah – olah tak percaya bias bertemu cowo seganteng itu. Sepertinya riski merasa jatuh hati pada cowo itu dengan ketampanya dan merasa sempurna bila berdampingan dengan cowo itu. Ternyata tak jauh berbeda dengan riski coeo itupun merasakan hal yang sama dengan riski dia “pangil saja Lipan”mersa terkagum-kagum sama Riski.pagipun tiba, tak sadar mereka belum tidur samapai pagi. Riski dengan rasa ngantuk yang luar biasa, tapi tetap saja dia melanjutkan lagi pekerjaanya.ditempat yangsama dengan hari sebelumya Riski memunguti sisa buangan abdi Negara. Dengan rasa penarasanya lipan pun kembali menemui Riski ditempat yang sama. Dengan rasa penuh pede Lipanpun menghampiri riski kembali. Cowo itupun tanpa basa basi mengungkapkan isi hatnya sama Riski dengan penuh kepastian. Risiki tanpa basa basi menerima tawaran lipan untuk jadi pacarnya,karena riskipun merasakan hal yang sama dengan lipan. Merekapu berpacaran takterasa mereka lalui sudah 3 bulan lamanya. Kedua insane itu saling mengisi satu sama lain dan memahami karakter dan kepribadianya masing masing.riski sangat beruntung mendapatkan pacar seperti lipan sesosok cowo yang sempurn dan mau mengerti tentang keadaan dirinya. Dibulan yang keempatnya mereka tak berbacaran lagi mereka melanjutkan hubunganya kejenjang pernikahan. Mereka rayakan pernikahan itu 7 hari 7 malam dengan berbagi hiburan yang membuat senang yang menghadiri pernikahan itu,mulai dari wayang kulit, orgentunggal,ebeg, ketoprang, srta tari gendingan jawa. Singkat cerita 1tahun kemudian riski dan lipan memiliki momongan dri hasil cinta kasih yang mereka jalin.anak itu mereka kasih nama Dislam tu kepanjangan ari diselal sela miskin. Anak itupu perkebanganya cepat trangginas seperti ibunya, yangtanpa lelah sebelum menikah dengan ayahnya. Waktupun terus berjalan, tak terasa anak itu pun sudah besar dan masuk kesekolah S.d. Sang ibu riski setiap hari sibu mengurus rumah dan memebersihka apa yang menggangu pemandangan dirumah itu. Dia walupun suduh hidup sudah berkelebihan masih tetapsajakerja kerasanya tak ditinggalkan bahakan suaminya menawarkan pembantu dirumahya saja riski tidak mau, seolah pekerjaan rumah yang ada masih enteng untuk dikerjakanya. Suatu ketika suaminya pulang dari kerjaanpun sampai samapi riski tidak menyambutnya saking sibuknya dia mengurus pekerjaan rumah tangganya. Lipan sedikit marah dengan tingkah laku suaminya seolah dia kutrang di perhatiakn,bahkan suatu ketika dipas malam nipan memepeoleh jatah malampun,riski tak mau mlayaninya karena terlalu lelah mengurusi pekerjaan rumahnya yang tiap hari menempuk. Lamakelaman nipanpun merasa jera dngan keadan seperti itu seolah di kurang mendapatkan perhatian dan kepuasan dari istrinya, sifat diapun kembali keasal sebagai penguasa. Setiap pulang kerja diapun memarahi istrinya tanpa alasan yang pasti.riskipun merasakan ada hal yang aneh dari suaminya, yang sering memarahi diadan sering berbohong kepada dia. Ternyata perasaan itu memang benar adanya nipan karena tidak bias dipuaskan mencari pasangan yang dapat memuaskan dirinya. B ahkan sutu ketika pacarbarunya Nipan dibawa keruah dia dan bermesraan dengan pacar barunya itu didepan Riski. Riski hanya bias menangis atas kejadian itu tak mampu berbuat apa-apa. Bedahalnya dengan nipan dia tiap hari tambah bruta meluapkanya sama Riski. Pada sutu saat saking rasa marahnya nipanpun mengeluarkan kata- kata yang pedas buat Riski,”dasar perempun miskin hanya bikin susah oaring saja tak bias membahagiakan suami. Setelah mendapatakan cacian itu riski langsung pergi tanpa pamit dan kembali kepada kedua orangtuanya sambil menangis. Nipan melihat istrinya pergi bukanya punya rasa simpatik dan kasian dengan keadaan itu dia malah mersa senang, justru dia berasa bebasa untuk mencari istri baruya yang ebih berkelas dibandingkan dengan riski. Sebulan kemudian Nipan pun melangsungkan pernikahan dengan pacar barunya itu,tanpan menalak Riski. Memang nasib tadinya orang golongan bawah ya tetap jadi golongan bawah tidak bisa berubah menjadi golongan atas dalam waktu sekejap. Dia kembali kehidupnya yang dulu, dia tetap menjadi sesok perempuan sederhana yang mengais rizki dari hasil sisa abdi Negara. Sudah setatus tidak karun janda bukan perawan bukan dia tetap bertahan dikehidupan sebelumnya menjadi sosok penerus orangtuanya pengambil sisa abdi negar.
The end
Cerprn ini hanya fiktif belaka Apabiala ada kesamaan nama,cerita latar dan sebagainya kami mohon maaf ini hanya fiksi saja dan tidak ada maksud untuk meniru kehidupanya orang lain.
Karya
Risdiyanto
mudah mudahan cerpen ini bisa menghibur banyak orang amin



Tidak ada komentar:
Posting Komentar